[Acting Review] Reza Rahadian di My Stupid Boss 2; Bukan Soal Berhasil Berubah

Reza Rahadian

Seperti di film-film yang lain, Reza Rahadian memang selalu memiliki capaian permainan yang menarik. Tapi bagi kami, salah satu permainan dengan capaian yang paling menarik adalah ketika ia bermain di film My Stupid Boss, baik yang pertama ataupun yang kedua. Kenapa bisa menarik? Dari apa yang kami lihat pada tokohnya di film My Stupid Boss ini, Reza berhasil membebaskan imajinasinya, mengejawantahkan imajinya, sekaligus mengontrolnya dengan baik. Tapi apakah sebagus itu? Apakah ia benar-benar berhasil mengontrol imajinasi atas tokohnya dengan baik? Berikut pembahasan selengkapnya;

 

 

Bukan Soal Keberhasilan Reza Rahadian Merubah

Secara kasat mata kita sudah melihat bahwa semuanya berhasil diubah oleh Reza. Kami sepertinya tak perlu lagi mengatakan apa saja yang berubah. Karena mulai dari suara, aksen, cara memandang, bentuk tubuh, cara berjalan, dan bagian lain dalam tubuh Reza berhasil diubah ke bentuk Boss Man. Saking banyaknya yang diubah, dan semua perubahan itu menarik, kami sampai bingung mau menulis apa. Kalau semua bagus, dan bingung mau menulis apa, lalu apa yang bisa dijadikan pembelajaran dari ciptaan Reza selain keberhasilannya berubah menuju tokoh? Jawabannya adalah kemampuan Reza mengontrol tubuhnya untuk tetap ada dalam bentuk tokoh dan tetap terlihat normal. 

Mengutip apa yang dikatakan oleh Stella Adler di buku The Art of Acting, dikatakan bahwa;

The important thing to remember is that you must make the control seem normal. (Adler, 2000:75)

Dikatakan oleh Stella Adler bahwa hal yang juga penting untuk diketahui dan dikuasai seorang aktor adalah bahwa ia harus mengontrol tubuhnya ketika sedang berada dalam bentuk tokoh. Dan bukan hanya mengontrol saja, tapi ia harus mengontrolnya dengan normal. Artinya normal adalah tidak terlihat upaya untuk mengendalikan bentuk tubuh itu. Tapi bentuk tubuh itu seolah sudah menjadi milik si aktor. 

Setidaknya itu yang kami lihat dari permainan Reza Rahadian. Reza berhasil mengontrol tubuhnya untuk tetap ada dalam bentuk tokoh dengan tetap terlihat normal. Ia menciptakan tubuh Boss Man yang gemuk, bentuk leher yang agak turun ke bawah, cara berjalan yang agak melebar dengan langkah yang besar, cara melihat yang berbeda, dan cara lain yang berbeda dengan kendali yang bagus dan terlihat normal, seperti bentuk tubuh itu sudah bersamanya sepanjang hidup. 

Kenapa kami justru bicara soal kontrol? Karena dalam penciptaan Reza Rahadian, sepertinya soal bentuk tokoh, desain tokoh dari ujung kepala sampai ujung kaki, semuanya sudah selesai. Ia, dalam film ini, seperti yang kami katakan di atas, berhasil mengejawantahkan imajinasinya atas tokoh dengan baik. Sekarang tugas selanjutnya bagi seorang aktor adalah membuat ciptaannya konsisten dan mempertahankan konsistensi itu dengan cara yang terlihat normal. Dalam kasus Reza, kami bisa melihat “kenormalan” dalam mengendalikan bentuk tersebut. Reza seperti sudah selesai dengan suara dan tetek bengek lainnya. Sehingga ketika ia bermain, ia hanya perlu menjaga agar ia tetap ada dalam bentuk tokoh, tetap konsisten, dan membuat bentuk yang sedang ia jalani dipertahankan dengan normal.  

 

 

Meskipun bentuk tubuhnya menjadi utuh karena bantuan kostum dan make up, Reza tetap berusaha untuk mengendalikan bagian tubuh lain sehingga relevan dengan bentuk tubuh yang tercipta dari kostum dan make up tokohnya. Sementara jika bicara soal suara, dari apa yang kami dengar, warna suara, caranya berbicara, aksen, nada, semuanya diciptakan selaras dengan bentuk tubuh si Boss Man. 

Stella Adler berkata dalam buku The Art of Acting, bahwa; 

The position of your body also has a great influence on your voice. Certain positions have great strength in them, and they allow the voice to project. (Adler, 2000:76)

Posisi tubuh tertentu memiliki pengaruh yang besar terhadap suara. Kami mengartikan posisi tubuh ini termasuk dalam bentuk tubuh tokoh. Bukan hanya berhenti pada posisi-posisi tertentu saja yang arahnya pada momen ketika tubuh melakukan kegiatan tertentu. Seperti yang kami bilang di paragraf sebelumnya, bahwa ciptaan suara Reza atas Boss Man terdengar relevan dengan tubuh Boss Man. Bentuk suara dan tubuh itu pun selaras karena mungkin dalam pandangan awam, tokoh dengan bentuk tubuh gendut macam Boss Man akan memiliki warna suara yang sama seperti yang Reza ciptakan. 

Masih soal suara. Kami mendengar dalam tiap dialog yang diucapkan oleh Reza Rahadian terasa dinamis dan tidak monoton. Bahkan aksentuasi dialog yang sering dilakukan oleh tokoh ini tidak terasa membosankan. Kami sempat bertanya kenapa? Apakah karena timing pengucapan aksentuasi itu tepat sehingga tidak terkesan membosankan, atau memang begitulah adanya tokoh ini? 

Kami setidaknya mendapatkan sedikit jawaban dari apa yang dikatakan oleh Jean Benedetti dalam bukunya The Art of Actor, bahwa;

The most important point is for the voice to match the nature of the subject and our feelings. We should not be monotonous in breathing or tone. (Benedetti, 2007:23)

Jadi, hal yang juga penting soal suara adalah kecocokannya dengan subjek dan perasaan si tokoh. Dengan begitu tidak akan terjadi kemonotonan dalam ciptaan si aktor. Nampaknya hal itulah yang terjadi pada suara ciptaan Reza untuk tokoh Boss Man. Suaranya memiliki kecocokan dengan si subjek, dalam hal ini Boss Man. selain itu aksentuasi itu keluar sesuai dengan perasaan si tokoh, jadi tidak dibuat-buat. Ia seperti interjeksi atau seruan, dimana orang akan mengucapkannya tergantung pada apa yang sedang diterima oleh panca indera dan pikirannya kala itu. Itulah yang sepertinya mampu membuat suara, dan aksentuasi tokoh Boss Man yang keluar cukup sering tidak jadi membosankan. 

Reza Rahadian

 

Pun begitu dengan ciptaan yang lain seperti misalnya cara berjalan, cara memainkan mata, cara memainkan leher, hingga aksen-aksen kecil yang muncul dalam permainan Reza, semua diciptakan relevan dengan bentuk tubuh Boss Man yang gendut. 

Sekarang kalau secara fisiologis Reza Rahadian sudah sangat berhasil mendesain dan memainkan tokoh ini, apakah dalam menjalankan pikiran dan perasaan si tokoh ia juga berhasil? 

Respon Boss Man yang Selaras

Jika pertanyaannya adalah apakah Reza Rahadian berhasil menjalankan pikiran dan perasaan si tokoh, maka kami akan melihat bagaimana ia menjalankan respon si tokoh. Hal itu yang akan menjadi parameter kami dalam melihat apakah Reza berhasil menghidupkan pikiran dan perasaan tokoh. 

Mungkin kalian masih ingat ketika adegan di sebuah pasar di Vietnam, saat ia berjalan di pasar, dan seorang penduduk sekitar berpapasan dengannya. Pada adegan itu Boss Man menyapa penduduk tersebut. Kami tak tahu betul apakah itu direncanakan atau tidak. Tapi dari respon kecil itu, kami tahu bahwa Reza setidaknya selalu berusaha untuk menjalankan pikiran dan perasaan si tokoh. 

Stella Adler berkata di The Art of Acting bahwa; 

Remember, every action consists of many little actions. (Adler, 2000:131)

Dalam nukilan itu kami bisa menangkap dua objek yang disampaikan oleh Stella. Ada Action dan Little Actions. Kami beranggapan bahwa Action adalah sebuah laku besar. Kalau dalam kasus Boss Man, menyusuri pasar adalah Action atau laku besar. Sementara Little Actions adalah laku kecil, yang dalam kasus Reza adalah lakunya ketika menyapa penduduk sekitar yang tak sengaja ia temui ketika sedang berjalan menyusuri pasar. Nah, laku kecil yang dilakukan Reza Rahadian itulah yang membuat kami yakin bahwa ia sedang menjalankan pikiran dan perasaan si tokoh. 

Sepemahaman kami, laku kecil itu sama seperti interjeksi. Ia tidak bisa sepenuhnya dirancang. Ketika ia dirancang, maka ia akan jadi artifisial atau berlebihan. Interjeksi itu harus muncul sendiri, dengan timing yang ia pilih sendiri dan sesuai dengan apa yang sedang berjalan di perasaan dan pikiran si tokoh. Laku-laku kecil yang dilakukan Reza terasa seperti tidak dirancang. Tapi dibiarkan muncul sesuai dengan apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan oleh si tokoh.

Itu kenapa dalam poin ini kami melihat respon Boss Man yang selaras. 

 

Artikel ini mungkin tidak sama dengan artikel-artikel sebelumnya yang membahas runut dari mulai fisiologis sampai psikologis dan peradegan. Kenapa? Karena kami rasa, dalam permainan Reza Rahadian di film ini, hal itu sudah selesai. Kita tidak bisa belajar banyak dari apa yang dilakukan Reza jika melihatnya dalam 3 dimensi tokoh dan cara mereview AkuAktor biasanya. Itu kenapa kami mencoba menganalisis ciptaan Reza dengan cara yang lain. Meskipun sebenarnya, jika kami bisa punya kesempatan bertemu Reza, kami akan bertanya soal sejarah penciptaan tokoh ini agar tahu apakah ciptaannya benar-benar relevan, normal, dan tidak dilebih-lebihkan? 

Semoga kalian tidak bingung, terima kasih, viva aktor! 

%d bloggers like this: