[Acting Review] Pretty Boys: Lucu, Tapi Jangan Berharap Lebih

Pretty Boys

Sudah nonton Pretty Boys? Merasa terhibur? Atau merasa lebih lucu dari film komedi sebelah yang rilis seminggu sebelum film ini rilis? Maklum. Kalau kalian lebih suka cara berkomedi film ini, mungkin memang kalian di satu sisi tidak sangat receh, di sisi lain cukup receh. Karena komedi di film ini beberapa juga receh. Tapi kami tak hendak bicara soal bagaimana film yang menjadi debut untuk banyak orang ini berkomedi. 

Pretty Boys bagi kami adalah salah satu film yang setidaknya memberi sedikit angin segar pada ekosistem perfilman kita. Hal itu karena konten yang mereka bawakan. Kita bisa mengecek, bahwa hampir tidak ada satupun film sepanjang tahun ini yang membahas soal bagaimana kondisi pertelevisian kita. Entah karena sudah terlalu busuk dan sukar dimasak atau terlalu busuk dan bikin muak. 

Lagi-lagi kita tidak akan membicarakan tentang filmnya. Cukup sampai disitu saja. Kami ingin mengulas habis soal permainan para aktornya. Mungkin ada sebagian dari kalian yang bertanya, kenapa AkuAktor harus mereview akting film ini? Apa yang spesial? Tidak ada. Memang tidak ada yang spesial, tapi… ada yang bisa kita pelajari dari film ini dan menurut kami sangat penting. So, let’s begin

Pretty Boys

 

Pretty Boys dan Capaian yang “Hampir” Biasa Saja

Tenang, sebelum para Vincent, Desta, Danilla dan Onad Lover ngamuk, kami tidak ada tendensi personal pada masing-masing dari mereka. Kami mendengarkan Danilla, sangat. Kami melihat Vincent Desta hampir setiap malam, dan kami suka Onad. Tapi dalam sudut pandang keaktoran dan capaian mereka, kami harus jujur bahwa mereka hampir menyentuh nihil. 

Kenapa mereka hampir menyentuh nihil pada film Pretty Boys ini? Sebelum kalian ngamuk, coba baca kutipan dari tokoh keaktoran dunia yang satu ini, Stella Adler, di bukunya The Art of Acting; 

Acting is only when you refuse to use yourself as the character. In the entire history of acting, nobody played himself. There is no such thing in the history of acting as Henry Irving playing Mr. Irving. Outside the theatre is perhaps another matter. But inside, never! They all played characters. (Adler, 2000:144)

Dalam pemahaman Stella Adler atau mungkin juga dalam pemahaman kalian yang paling sederhana, akting adalah ketika kita menolak untuk menggunakan diri kita sebagai karakter. Akting adalah ketika kita menjadi orang lain. Dalam sejarah akting, tidak ada yang bermain sebagai dirinya sendiri. Semua aktor itu bermain sebagai karakter. Kecuali itu film dokumenter. 

Jadi intinya, setiap orang yang mengamini bahwa dalam film itu ia sedang akting, maka ia harus berusaha untuk menjadi orang lain. They have to create another human body and soul. Dan itu hampir tidak terjadi pada siapapun yang sedang bermain di Pretty Boys. Mari kita bahas satu persatu terlebih dahulu. 

Vincent sebagai Anugerah

Pertama Vincent. Di film Pretty Boys ini ia bermain sebagai Anugerah. Pertama kita bahas capaian fisiologisnya. Coba dengar dan lihat baik-baik. Apakah ada suara yang berubah? Adakah bahasa tubuh yang berubah atau baru? Hampir tidak ada. Caranya memandang, caranya memainkan leher ketika ia melihat ke bawah, cara berjalan, cara melihat, bahkan cara membuka dan menutup mulut. Semua laku tubuh itu hampir semua sama. 

Begitu juga warna suaranya. Tidak ada perubahan sama sekali. Warna suaranya masih sama, tempo berbicaranya masih sama, aksennya juga masih sama. Padahal, kalau kalian perhatikan, Vincent punya kesempatan sangat besar untuk mengubah caranya berbicara dan bentuk fisiknya. Kita bahas nanti kenapa ia memiliki kesempatan sangat besar untuk mengubah cara bicara dan bentuk fisik sekalian Desta dan pemain lain. 

Mungkin malah yang menarik adalah ketika ia menjadi banci. Karena ketika Anugerah menjadi banci, kami masih bisa melihat kondisi “Anugerah sebagai banci” bukan double karakter. Di satu sisi kondisi ini menarik karena Vincent secara tak langsung tetap mempertahankan basis tokohnya sebagai Anugerah. Tapi disisi lain jadi tak menarik, karena Anugerah dan Vincent bentuk laku tubuhnya tidak berubah jauh. Sehingga kami malah akhirnya melihat Vincent sebagai banci. 

Masalah fisiologis kami tak ingin membahas lebih lanjut karena memang tak ada yang bisa dibahas lagi. Dalam permainan Vincent, justru sisi emosi yang harus kita perhatikan baik-baik. Dalam film Pretty Boys, Vincent mendapatkan ruang yang cukup banyak untuk bermain emosi yang dalam. Setidaknya lebih banyak dari pada pemain yang lain. Hal tersebut dipergunakan dengan cukup baik oleh Vincent. 

Pada beberapa adegan yang sedih dan dalam, kami bisa merasakan vibrasi dari adegan tersebut. Salah satu yang menurut kami cukup mencuri perhatian adalah permainan emosinya ketika bertengkar dengan Rahmad saat Enzy menjadi bintang tamu. Pada adegan itu kami bisa merasakan getaran emosi yang kuat dari Anugerah. Dengan catatan, mengenyampingkan jauh-jauh capaian fisiologis dan mengenyampingkan upaya mendengarkan lawan main. 

Pada adegan itu kami melihat ada upaya untuk mendengarkan lawan mainnya dan mengeluarkan respon atas apa yang dilakukan lawan main. Tapi terkadang upaya itu buntung dan seperti tidak mendengarkan. Sehingga kemarahan yang muncul terkadang terasa tiba-tiba.  

Adegan selanjutnya yang juga memiliki permainan emosi yang menarik adalah ketika Anugerah bertemu dengan bapaknya dan berbincang di depan rumah. Pada adegan itu kami tersentuh lagi. Kami bisa bilang, permainan emosi Vincent dalam adegan ini sederhana, tapi dalam. Vincent berhasil menunjukkan semua halaman nol yang menjadi motornya menjalankan semua adegan Anugerah. Ia berhasil menunjukkan semua alasan kenapa tangisannya keluar. Sehingga tangisan itu tidak terkesan muncul tiba-tiba dan palsu. 

Desta sebagai Rahmad

Lalu bagaimana dengan yang lain? Desta misalnya? Sama saja sebenarnya, dalam ruang fisiologis, Desta, Vincent, dan Danilla ada di capaian yang sama. Tidak ada perubahan. Mungkin perubahan yang paling kelihatan adalah pembawaannya. Tapi bukankah itu akhirnya sama seperti Danilla yang sedang kalem, Desta yang sedang bercanda dan Vincent yang sedang serius? Bukan Asty yang sedang apa, Rahmad yang sedang apa, dan Anugerah yang sedang apa. Bukankah mereka, harusnya menjadi Asty, Rahmad, dan Anugerah yang jelas manusia yang lain dan bukan Desta atau pun Vincent dan Danilla? 

Pada permainan Desta, kami melihat kondisi dimana ia terlihat “berusaha acting”. Sehingga pada beberapa respon terasa bau kertas dan terlalu dibuat-buat. Bukan respon yang hadir karena mendengarkan lawan main dengan baik. Ingat, akting sejatinya adalah reaksi. Reaksi atas ruang, reaksi atas kondisi, reaksi atas lawan main, dan lain sebagainya. Ia adalah reaksi atas. Bukan entitas yang muncul sendirian. 

Pada permainan Desta, beberapa aktingnya muncul sendirian. Tanpa proses mendengar dan merasakan yang baik. Desta seperti tahu bahwa setelah dialog ini, ia harus berdialog dengan perasaan tertentu. Bukan fokus pada mendengarkan lawan mainnya, lalu perasaan dan cara berdialognya muncul atas proses mendengar dan merasakan lawan main. Kami mencatat, bahkan pada beberapa adegan penting, Desta tidak mendengarkan dengan baik. 

Tapi satu hal yang bisa diperhatikan dari permainan Desta adalah upayanya untuk terlihat berbeda. Tapi Desta seperti tidak menemukan jalan yang tepat untuk sampai pada tokoh yang berbeda. Desta seperti sudah berjalan, tapi tidak tahu harus melangkah secepat apa, dengan cara apa, dan memilih jalan yang sebelah mana untuk sampai pada tokoh itu. Sehingga akting Desta terkesan “wagu”. Ia tidak bisa kita bilang jelek, tapi juga tidak bisa kita bilang bagus.

Pretty Boys

 

 

Danilla sebagai Asty  

Lalu Danilla, perempuan satu ini seperti yang kami bilang, punya capaian yang sama seperti Vincent dan Desta. Tidak ada capaian fisik yang menarik. Soal respon ia juga sama seperti Desta. Pada beberapa adegan, dialognya terkesan menunggu, bukan muncul karena mendengarkan. Salah satunya ketika adegan pertama saat membereskan dapur. 

Ketika ia berusaha membereskan piring-piring, kita bisa melihat Danilla seperti kebingungan dan tidak tahu kenapa ia harus membereskan piring-piring itu. Ia seperti kehilangan motivasi dari lakunya sehingga laku tubuhnya terlihat bingung. Mungkin Danilla perlu tahu bahwa dalam tiap laku, sekecil apapun itu selalu memiliki tujuan. Dalam sudut pandang Stanislavski, Danilla tidak memberikan “bumbu” untuk tiap “bit” yang dilakukannya. Bahkan bumbu yang paling sederhana. Sehingga ia terkesan kebingungan. 

Danilla sedikit lebih beruntung dari pada Desta karena mendapatkan porsi bermain emosi yang dalam. Salah satunya adalah ketika ia menangis di sebelah Anugerah. Pada momen itu, kami angkat topi. Danilla berhasil menggetarkan perasaan kami dengan tangisannya. Ia sama seperti Vincent, menunjukkan emosinya dengan sederhana, dan menggenggam alasan atas tangisannya dengan kuat. Sehingga dialog dan semua laku yang muncul itu keluar atas dasar operasional dalam atau inner life dari si tokoh. 

Tanda keberhasilan Danilla bermain emosi adalah ketika kami, dan para penonton satu bioskop terdiam setelah lama dibuat tertawa. Dan lagi, dengan film ini sebagai debut, Danilla setidaknya sudah memiliki jarak capaian yang lebih jauh dari pada Vincent dan Desta. 

Onadio sebagai Roni

Onad sejatinya juga memiliki capaian yang sama dengan pemain lain. Bahkan bentuk aktingnya yang kebanci-bancian itu terkesan hampir artifisial atau dibuat-buat. Akting Onad bisa jadi palsu ketika semua lakunya muncul bukan karena ia mendengarkan lawan main dengan baik. 

Pada bagian merespon lawan main, Onad merespon dengan lebih luruh. Ia mendengarkan lawan mainnya dengan baik dan meresponnya sesuai dengan apa yang ia dengarkan. Ia bermain jujur, setidaknya dengan apa yang ia punya dan kemampuan yang ia miliki saat itu. Nampaknya ini jadi relate dengan apa yang dikatakan Tompi dalam sebuah wawancara dengan Glenn ketika ia mengungkapkan alasan kenapa Tompi mau menerima Onad sebagai pemain. 

Onadio seperti sadar bahwa ia memiliki banyak kekurangan dalam akting dan tidak berusaha menutupi kekurangan itu. Ia menerima kemampuan aktingnya yang segitu, bermain jujur dengan apapun yang ia miliki dan yang berhasil ia ciptakan. Onadio berusaha tidak menghianati kemampuannya sendiri. Hal sederhana yang mungkin oleh banyak aktor jarang disadari.  

Satu lagi yang perlu digaris bawahi dari permainan Vincent Desta. Hal tersebut adalah chemistry keduanya. Setidaknya dari ciptaan yang hampir biasa saja, chemistry dua sahabat yang usia persahabatannya sudah seusia salah satu anggota tim kami, bisa menjadi modal yang baik. Mereka sepertinya juga paham bahwa itu adalah modal yang baik dan bisa mempergunakannya dengan baik. Terlihat dari tik tok komedi yang mereka pertontonkan. 

 

Yang Seharusnya Cast Pretty Boys Lakukan 

Jika kita hanya memberi analisis tanpa masukan, nampaknya akan hambar dan tidak sesuai dengan visi dan misi AkuAktor. Jadi, demi keaktoran yang lebih baik, kami memiliki beberapa saran untuk Cast Pretty Boys. Terutama Vincent, Desta, Danilla, dan Onadio. 

Pertama untuk Vincent dan Desta. Jika Vincent masalahnya ada pada penciptaan fisiknya, maka kami menyarankan untuk meniru bentuk fisik Anugerah kecil. Coba perhatikan Anugerah kecil. Lihat bagaimana bentuk mulut bagian rahang bawahnya agak maju dan caranya mengucapkan D yang berbeda. Kenapa Vincent tidak meniru saja Anugerah kecil itu? Seperti apa yang dilakukan Tom Hanks ketika ia bermain sebagai Forrest Gump. 

Pada kasus Forrest Gump, untuk kalian yang belum tahu, Tom Hanks meniru seutuhnya cara berbicara anak kecil itu. Dimana hasil ciptaan itu berhasil membawa Tom Hanks mendapatkan Oscar keduanya. Nah, Vincent punya kesempatan itu sebenarnya. Apalagi, jika kita menarik logika, mungkinkah rahang bawah yang lebih maju itu bisa berubah ketika dewasa? Bahkan ketika ia operasi plastik. Mungkinkah tokoh Anugerah yang miskin itu operasi plastik? Lalu mungkinkah pelafalan D berubah ketika sudah dewasa? Kemana semua bentuk tubuh Anugerah kecil itu? Kenapa menghilang? Itu masukan untuk Vincent, yang sayangnya ini adalah film terakhirnya. Tapi terima kasih atas permainanmu Mas Es. 

Sementara untuk Desta, kami menyarankan untuk mendengarkan lawan main dengan baik dan tidak menerka-nerka masa depan ketika sedang bermain. Menduga masa depan ketika sedang bermain itu membuat semua laku tubuhnya terbaca, terasa palsu, dan bau kertas. Ingat bahwa akting itu hasil dari merespon kondisi sekitar dengan baik. Jadi cobalah untuk mendengarkan saja dengan baik apapun yang dikatakan lawan main. Lalu respon sebagaimana tokoh meresponnya. 

Kami berkata Desta “Menduga masa depan” karena pada satu video Pretty Boys di Youtube, kami melihat proses latihannya. Pada proses latihan itu ada satu bagian dimana mereka harus mengulang dialog dan Desta berkata “bagian ini harus dalem ya?” Dari perkataan itu kami menangkap bahwa ia mungkin terlalu fokus pada dialognya yang harus dalam. Bukan pada alasan kenapa dialognya harus dalam. Seharusnya, Desta fokus pada kenapa dialognya harus dalam. Karena soal dalam dan tidak itu muncul atas dasar cara tokoh mendengarkan tokoh lain berbicara. 

Selain itu, ketika mendapatkan tokoh, sepertinya Desta perlu menyusun visi dan misi tokoh tersebut. Sehingga ia tahu harus melangkah kemana dengan tokoh yang sedang ia mainkan. 

Itu juga yang terjadi pada Danilla. Pada beberapa momen, ia menduga masa depan seperti Desta. Ia seperti tahu setelah dialog A ia harus berdialog B dengan cara sedih. Cara berpikir semacam itu seharusnya disingkirkan jauh-jauh oleh seorang aktor. Ia harusnya berpikir dengan cara “Dialog B muncul karena kata-kata di Dialog A” dan “Emosi Dialog B karena kondisi, suasana, dan nada bicara Dialog A” atau kalimat sejenis. 

“Menduga Masa Depan” dalam bahasa kami adalah sebuah jebakan yang membuat permainan aktor tertebak, tidak otentik, dan palsu. 

Sementara untuk Onad, beruntunglah ia, tokoh Madam Roni tidak terlalu jauh bahasa tubuhnya dari bahasa tubuh Onad belakangan ini. Sehingga Onad seperti tinggal menebalkan bahasa tubuhnya saja. Tapi Onad perlu berhati-hati ketika akhirnya nanti ia harus menciptakan tokoh baru di film yang lain. Tetap bermain jujur saja. Kalau nggak bisa akui nggak bisa lalu pikirkan cara untuk bisa. Sederhana bukan? 

Overall, Pretty Boys oke. Filmnya. Tapi aktingnya, tidak semua. 

Terima kasih, Viva Aktor!  

%d bloggers like this: