[Acting Review] Marriage Story; Permainan Emosi yang Dalam

Marriage Story

Marriage Story adalah salah satu film yang tahun ini mendapatkan bejibun penghargaan. Kebanyakan penghargaan yang film ini dapatkan adalah aktor dan aktris terbaik. Nama Adam Driver dan Scarlett Johansson menghiasi banyak penghargaan. Mulai dari Golden Globe, Screen Actor Guilds, hingga yang terbaru, BAFTA. Mereka berdua, Scarlett Johansson dan Adam Driver memiliki kesempatan yang besar untuk masuk Oscar mengingat keduanya berhasil masuk 3 penghargaan tersebut. 

Tapi bagaimana sebenarnya permainan Scarlett dan Adam? Apakah benar-benar sebagus itu? Acting Review ini penuh dengan spoiler. Jadi kami sarankan berhenti disini dan jangan baca lebih lanjut kalau tak ingin kena bocoran ceritanya. 

 

 

Capaian-capaian yang Minim

Kenapa pada sub judul yang pertama kami menuliskan “capaian-capaian yang minim?” Sederhana saja, memang tidak banyak capaian pada aspek lain selain emosi. Kami selalu concern untuk membicarakan bagaimana si aktor dan aktris berhasil menciptakan “tubuh” tokohnya. Kenapa ini sangat penting? Di luar soal semua teori yang tertulis di buku, adalah karena pada prinsip dasar keaktoran, si aktor harusnya berupaya menciptakan “wadah” yang lain. 

Kami persingkat saja. Soal suara, tidak ada perubahan di keduanya. Soal bentuk tubuh, tidak ada perubahan di Scarlett, tapi sedikit perubahan di rambut dari Adam Driver. Terlihat lebih tebal. Cara berjalan, kami rasa sama dengan Scarlett dan Adam Driver di filmnya yang lain. Bentuk torso, kami rasa Scarlet memiliki sedikit perubahan, terutama jika dibandingkan tokoh Black Widow ciptaannya. Pundak dan torso Nicole, tokoh Scarlett dalam Marriage Story terasa lebih turun. 

Kami agak gregetan sebenarnya. Jika di Indonesia mungkin alasan pertama ketika ditanya kenapa tidak menciptakan fisiologis adalah soal keterbatasan waktu, kalau di Hollywood apa? Bukankah mereka hampir selalu mendapatkan waktu yang cukup untuk menciptakan tokoh? Atau ada persoalan lain? Seperti misalnya anggapan bahwa tokoh ini “mirip denganku”? Bukankah malah akan makin sulit memainkan tokoh yang mirip dengan si aktor? 

Ingat prinsip aku diri, aku aktor, dan aku peran yang dipopulerkan Rukman Rosadi? Ada 3 ruang yang harus dipahami si aktor. Pertama adalah ruang aku diri. Aku diri lebih pada proses dan ruang si aktor mengenali dirinya. Mengenali bagaimana bentuk tubuhnya, bagaimana cara ia menjalankan emosi, dan detail lain pada tubuhnya. Secara sederhana, aku diri adalah proses mengenali diri. Proses ini penting karena dengan mengetahui soal diri, maka kita bisa tahu bahwa kita tidak pernah sama dengan orang lain apalagi tokoh yang kita mainkan. 

Ruang selanjutnya adalah aku aktor. Aku aktor adalah ruang berlatih dan belajar. Disini si aktor harus memiliki kesadaran bahwa dirinya sedang melatih semua perangkat yang ia punya untuk menciptakan tokoh. Baru setelah di aku aktor, maka si aktor akan masuk ke aku peran. Pada ruang ini si aktor sepenuhnya jadi peran. Sudah tidak ada aku diri lagi, apalagi aku aktor. Tentu saja, kan ini sudah peran. Bukan ruang latihan lagi apalagi ruang untuk diri si aktor. 

Soal “tokohnya sama denganku!” kami rasa juga tidak tepat. Kenapa? Pada ruang aku diri, si aktor berusaha mengenali dirinya sedetail mungkin. Bukan hanya soal bentuknya saja, tapi juga sejarahnya. Sekarang, adakah manusia yang memiliki sejarah yang sama? Bahkan ketika ia kembar. Mereka berdua pasti memiliki bentuk yang berbeda. Misalnya, tokoh yang si aktor mainkan dan si aktor sendiri sama-sama tomboy. Apakah itu sudah menjadi jawaban bahwa si tokoh “gua banget!”? Tentu tidak. Ingat, tomboy ini memiliki sejarah dan latar belakang yang lain. Misalnya, ia tomboy pada tahun berapa? Yakin sama? Tokoh ini dan si aktor tomboy di daerah mana? Yakin sama? Dan banyak hal lainnya. 

Bukankah akan makin enak seorang aktor ketika bermain, saat dia berhasil menciptakan wadah yang tepat? Secara otomatis semua lakunya akan otentik kan? Tapi kenapa banyak yang mengacuhkan dimensi ini? Ah, sudahlah. Kami bingung sendiri. 

Kembali pada Marriage Story yang tidak memiliki banyak capaian fisiologis. Mungkin film ini memang tidak mendahulukan capaian fisiologis. Mungkin film ini memang ingin bermain di ruang drama yang penuh kesedihan dan tangisan. Tapi, meski begitu, bukankah sudah tanggung jawab si aktor untuk menciptakan “manusia baru”? 

Marriage Story

 

 

Permainan Emosi Marriage Story Luar Biasa

Aspek ini yang menarik dari permainan Adam Driver dan Scarlett Johansson di Marriage Story. Kami rasa, aspek ini jugalah yang berhasil membawa mereka mendapatkan banyak nominasi di banyak penghargaan. Tak dipungkiri, permainan emosi Scarlett dan Adam sangat intens. Kami akan memberikan beberapa contoh adegan dengan permainan emosi yang sungguh luar biasa. 

Pertama, di adegan saat Adam dan Scarlett bercerita. Hanya terdengar suara mereka saja. Tapi entah kenapa, kami merasa bahwa suara mereka membawa sesuatu yang cukup kompleks dan berat. Kami rasa itu terjadi karena pilihan nada, dan tempo suara. Kami merasa suara mereka ringan, tapi sekaligus terasa begitu dalam dan memiliki sejarah yang panjang.   

Di adegan lain, saat setelah pementasan dan mereka pulang ke rumah, Charlie, tokoh yang dimainkan Adam Driver, mengkritisi bagaimana istrinya tadi bermain. Kita bisa melihat permainan emosi berlapis dari Scarlett. Jika diperhatikan dengan detail, ada bahasa tubuh yang seperti menolak apa yang dikatakan Charlie. Tapi ia berusaha menyembunyikan bahasa tubuh itu. Tapi yang menarik, bahasa tubuh itu sesekali muncul dan menjadi sebuah penanda pada penonton bahwa ada sesuatu yang sedang Scarlett sembunyikan. Lalu setelah Adam Driver pergi, kita bisa melihat bahasa tubuh dan emosi yang sedari tadi disembunyikan, keluar. 

Pada adegan kedua ini kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa seorang aktor bisa membagi emosinya pada matriks-matriks tubuhnya. Misalnya pada permainan Scarlett, kita bisa melihat bahwa ia mengalirkan emosinya yang lain pada bagian tubuh lain. Menurut kami, hal itulah yang juga secara tidak sadar sering dilakukan manusia pada umumnya. Ketika mereka berbohong, akan terlihat wajah yang seperti yakin, tapi tangan yang ragu, atau gerakan kaki yang panik. 

Lalu soal permainan emosi yang dinamis, Scarlett juga berhasil menunjukkannya. Salah satunya ada pada adegan ketika ia bercerita panjang pada pengacaranya. Kami melihat perjalanan emosi yang dinamis dan menarik. Misalnya, ketika bercerita tentang hal-hal yang menyenangkan, kita bisa menangkap tone dan tempo yang sedikit lebih cepat dan lebih cerah. Sementara ketika ia menceritakan tentang kesalahan atau hal-hal buruk di masa lalu, kita bisa mendengarkan tone suara yang berubah dan bahasa tubuh yang ikut berubah. 

Dari adegan ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa tubuh itu digerakkan oleh emosi. Aktor tidak boleh hanya sekedar menghafalkan naskah saja. Tapi ia harus memahami tiap baris dialognya dan mengucapkan dialog itu dengan benar dan tepat. Si aktor harus memahami juga bagaimana perjalanan emosi dari tiap kalimat yang ia ucapkan. Karena bisa jadi, pada satu kalimat, ada banyak emosi yang berjalan. Itu kenapa roundtable analysis yang diciptakan Stanislavski jadi sangat penting. 

Lalu bagaimana dengan Adam Driver? Sama seperti Scarlett. Ia memiliki porsi permainan emosi yang kira-kira sama. Salah satu yang menarik adalah ketika Adam berbincang dengan pengacaranya. Kami bisa melihat perjalanan emosi yang menarik dan relevan. Hal yang paling bisa diperhatikan disini adalah bagaimana Adam Driver seperti menemukan bit pada tiap kata yang akan diucapkannya. 

Maksudnya begini, ketika sebuah kata muncul, ia bukan muncul tiba-tiba. Ia muncul dengan alasan. Nah, alasan itulah yang disebut bit. Alasan itu bisa ada di kata sebelumnya, atau di laku si aktor. Adam Driver berhasil menemukan tiap bit dari dialognya sehingga semua dialog yang ia katakan relevan, berjalan dengan baik dan dinamis. 

Adegan yang menurut kami paling menarik adalah ketika Adam dan Scarlett bertengkar panjang. Kami merasa permainan emosi keduanya intens dan dinamis. Mereka berdua saling mendengarkan dan mendukung satu sama lain. Dari keduanya kami bisa melihat tidak ada upaya untuk mengungguli satu sama lain. Masing-masing dari mereka bergerak sesuai koridor dan porsinya. 

Hal yang menarik lainnya adalah kenyataan bahwa semua dialog yang diucapkan oleh Adam dan Scarlett sama persis dengan naskah. Itu artinya tidak ada improve. Menarik karena dengan tidak adanya improve dan sama persis dengan naskah, mereka berdua berhasil membuat kata-kata itu bernyawa. 

Tapi ada yang lebih menarik dari adegan pertengkaran itu. Adegan tersebut adalah ketika Adam dan Scarlett berada di pengadilan dan mereka berdua mendengarkan penjelasan pengacara mereka. Pada momen ini tidak ada dialog dari keduanya. Tapi somehow, mereka tetap bernyawa. Kami rasa selain bantuan kamera yang memang fokus ke mereka, baik Adam dan Scarlett mendengarkan ruang, peristiwa, dan dialog lawan main dengan baik. Mereka kemudian membuat pikiran dan perasaannya bereaksi atas apapun yang tertangkap telinga dan matanya. Hal itu membuat silent act yang terjadi pada adegan ini hidup. 

Memang dalam Marriage Story tidak ada capaian fisiologis yang menarik. Tapi capaian psikologis dari Adam dan Scarlett membuat mereka pantas untuk masuk ke banyak nominasi aktor dan aktris terbaik. Tapi soal apakah mereka berdua akan mendapatkan penghargaan itu, kami rasa kemungkinannya kecil. Untuk Adam Driver misalnya, butuh lebih dari sekedar permainan emosi, tapi juga ciptaan yang detail. Sementara Scarlett mungkin memiliki kans lebih besar, terutama di Oscar. Mengingat Best Actress untuk Oscar terkadang tak memperhatikan ciptaan pada dimensi fisiologis. Tapi sepertinya harus rela memberikan Oscar tahun ini pada Renee Zellweger. Tapi mari kita lihat!

Terima kasih, viva aktor!   

%d bloggers like this: