[Acting Review] Love For Sale: Acting Kecil nan Detail

Love for sale

Love for Sale adalah salah satu film yang pada tahun ini mendapatkan banyak nominasi dan penghargaan di beberapa festival. Salah satu yang cukup mencuri perhatian adalah masuknya Gading Marten ke dalam jajaran nominasi aktor terbaik FFI 2018.

Untuk melihat seberapa besar kesempatan Gading mendapatkan penghargaan Aktor FFI 2018 kamu bisa melihatnya di artikel ini.

Lalu bagaimana sebenarnya permainan Gading dan Della, yang juga mendapatkan nominasi Aktris Terbaik FFI 2018 di film Love for Sale? Berikut ulasan singkat mengenai akting para aktor dalam film Love for Sale.

Apa yang Spesial dari Acting film Love for Sale?

Ketika melihat film Love for Sale dari menit pertama dan melihat Gading Marten muncul sebagai Richard, tak ada hal lain yang mencuri perhatian selain perubahan fisik pada tubuh Gading. Dilihat selintas, perubahan fisik yang tercapai adalah rambut yang memiliki sedikit uban dan badan yang terlihat gemuk. Lalu apa yang spesial selain itu?

Dalam ruang lingkup keaktoran, ada banyak sekali aspek yang semestinya dicapai seorang aktor. Dalam hal ini kita bicara soal akting realis yang sering dipakai di film. Di dalam akting realis, tujuan utamanya adalah menciptakan “manusia baru” yang lengkap dan detail dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kembali lagi ke aspek-aspek yang harus dicapai seorang aktor dalam permainan keaktorannya. Jika kamu pernah mendengar konsep mind, body and soul, maka itulah yang menyusun “manusia”. Maka aspek yang mesti diciptakan oleh si aktor adalah tubuh (body), pikiran (mind), dan jiwa (soul). Ketiga aspek tersebut saling berhubungan satu sama lain. Seharusnya, tidak bisa seorang aktor hanya menciptakan salah satu dari ketiga aspek itu. Tentu sah-sah saja jika ingin menciptakan si “manusia baru” dengan aspek yang tidak lengkap. Tapi jika berbicara keaktoran yang ideal, maka aspek tersebut harus dicapai.

Source: amir at the movies

Lalu bagaimana dengan permainan Gading dan aktor lain di film Love for Sale dalam sudut pandang keaktoran? Dalam aspek fisik, Gading memiliki capaian yang menarik. Pertama adalah dari kenampakannya sebagai tokoh Richard yang terlihat dilemparkan sejauh mungkin dari diri Gading. Selanjutnya adalah soal laku tubuh. Pada menit pertama dan beberapa menit setelahnya, Gading memberikan laku tubuh yang seolah menjauhkan pikiran penonton tentang anggapan bahwa “Itu Gading!”. Ia menunjukkan laku tubuh yang jorok, dan masa bodoh. Laku itu bisa dibilang cukup berhasil membangun imaji tokoh Richard. Tapi sayang…

Tubuh itu juga terdiri dari suara kan? Lalu juga terdiri dari cara memandang, cara berucap, cara bernafas, cara menutup mata, dan lain sebagainya. Dalam soal ini, suara terutama, Gading bisa dibilang belum sangat berhasil membawa imaji penonton ke dalam tokoh Richard. Jika didengarkan baik-baik, warna suara yang dipilih Gading dalam tokoh ini sama dengan warna suaranya di kehidupan nyata.

Tapi jika kita untuk sementara menyingkirkan sejenak soal capaian fisik, maka Gading ada di performa terbaiknya selama ia bermain film. Kenapa bisa begitu? Jika kalian perhatikan betul sepanjang film soal permainan emosi Gading, semuanya terasa smooth. Hampir semua emosi yang muncul dalam tokoh Richard, hadir dengan motivasi yang jelas. Satu hal yang paling menarik dari akting Gading dalam film ini adalah laku-laku kecil nan detail yang dimunculkan si tokoh. Hampir sepanjang film tidak ada satu pun akting dengan ukuran yang besar. Tapi dalam sepanjang film, ada banyak sekali adegan-adegan dengan intensitas yang tinggi dan beragam.

Salah satu yang paling menarik adalah ketika adegan Richard bercerita tentang orang tuanya pada Arini yang diperankan oleh Della Dartyan. Pada adegan tersebut, Gading berhasil memainkan emosi Richard dengan sangat halus. Ia kurang lebih bercerita soal masa lalunya dan kenapa ia bisa sampai ada di titik yang sekarang. Kesedihan yang dimunculkan Gading terasa seperti kesedihan lelaki 41 tahun yang memang sudah dewasa dalam banyak aspek. Sudah memakan banyak asam garam dan tidak semestinya menangis karena satu atau dua hal yang menganggu masa lalunya. Tapi Gading juga tetap menunjukkan Richard sebagai manusia biasa yang rindu ibunya.

Source: cinejour

Masih dalam adegan yang sama, Gading berdialog “Padahal”. Dalam satu kata itu, terdengar pita suara yang bergetar karena menahan tangis. Tangis itu seolah hendak pecah di kata “Padahal”. Tapi tangis itu tertahan dan seketika berganti sedikit senyuman. Emosi pada adegan tersebut pun disusun dengan sangat baik oleh Gading Marten. Tidak muncul seketika dan hanya karena suruhan sutradara untuk menangis. Tapi muncul sebagai sebuah kehidupan yang berjalan beriringan dengan pertumbuhan perasaan si tokoh.

Akting Dalam Akting

Apa itu akting dalam akting? Mungkin sebagian dari kalian bertanya apa itu akting dalam akting. Secara sederhana akting dalam akting itu seperti ini; Akting kan tujuannya menciptakan “manusia baru”, nah setelah tercipta manusia baru, dalam salah satu adegan, si “manusia baru” itu juga harus akting atau mungkin bahasa lebih sederhananya berpura-pura merasakan, berpura-pura menjadi atau berpura-pura melakukan sesuatu. Jadi dalam film itu, tokohnya yang akting. Bukan lagi si aktor. Jika kurang jelas, mungkin contoh adegan dalam film Love for Sale ini bisa memberikan pencerahan tentang apa itu Akting Dalam Akting.

Memang banyak sekali adegan akting dalam akting di film Love for Sale. Salah satunya adalah adegan ketika Richard membawa Arini, pacar palsunya, ke acara pernikahan teman Richard. Dalam adegan tersebut, Richard “berakting” bahwa Arini adalah kekasihnya. Arini pun “berakting” bahwa dia adalah kekasih Richard. Dalam adegan tersebut Gading bisa dibilang berhasil menunjukkan ketidak bisaannya “berpura-pura”. Di satu sisi bahasa tubuhnya yang kecil dan pandangan matanya yang terlempar kesana kemari menunjukkan kecanggungannya akan kondisi tersebut. Bahasa tubuh yang kecil-kecil itu mendukung laku Gading yang “berpura-pura” menjadi kekasih Arini.

Lalu bagaimana dengan permainan Della sebagai Arini yang juga berhasil masuk FFI 2018? Secara garis besar, permainan Della bisa dibilang bagus. Sepanjang film , ia seolah lebur dalam Arini, tokoh yang harus “berpura-pura” menjadi kekasih Richard. Bisa dibilang, sepanjang film ia menunjukkan keprofesionalitasannya atas pekerjaan sebagai kekasih “pura-pura”nya Richard. Tokoh ini seolah-olah mendapatkan SOP kerjaan harus menjadi pacar yang membahagiakan Richard dan harus sangat profesional dengan SOP itu. Sepanjang film Della berhasil melakukan hal tersebut. Tapi Arini tetap seorang manusia kan?

Love for sale
Source: Netflix

Meski bagus, dalam beberapa bagian akting Della tidak cukup baik. Misalnya dalam adegan ketika di dalam taksi setelah menghadiri undangan pernikahan. Richard menyuruh Arini pulang karena pekerjaannya sudah selesai di mata Richard. Tapi Arini tak mau pulang. Ia tiba-tiba menangis dan mengatakan bahwa ia harus menyelesaikan kontraknya yang berdurasi 45 hari itu. Jika tidak ia akan dipecat dan tidak bisa menafkahi ayahnya yang sakit. Dalam adegan ini, ada yang sedikit janggal. Tangisan yang dilontarkan Arini terlihat terlalu cepat. Mungkin karena tidak ada bangunan yang baik untuk menuju tangisan tersebut. Jadi jika diperhatikan betul, alasan tangisan itu justru muncul setelah tangisannya. Belum lagi adegannya yang separuh gelap, sehingga sedikit bahasa tubuh yang bisa terbaca dari Arini. Sehingga letak tangisan itu rasanya kurang tepat.

Dalam keseluruhan film Love for Sale, bisa dibilang permainan Arini lah yang memiliki tingkat kesulitan yang lebih besar ketimbang Gading Marten. Kenapa? Sepanjang kemunculannya di film, ia harus sepenuhnya akting dalam akting. Ia harus berpura-pura menjadi kekasih Richard dan terus stay dalam kondisi tersebut. Dalam diri tokoh Arini pastinya ada gejolak yang sangat besar. Gejolak itu sepanjang film memang bisa dikendalikan. Tapi pada adegan terakhir, ketika berada di atas tempat tidur dan Richard memeluknya dari belakang, gejolak tersebut muncul tapi hanya sedikit. Tokoh Arini yang diciptakan Della jadi seperti manusia yang kehilangan kemanusiaannya.

Kita harus ingat bahwa sejak awal film Love for Sale kita sudah diberi informasi bahwa Arini adalah  pegawai Love Inc. Dimana kita terus diberi tahu bahwa Arini adalah Arini. Bukan orang lain yang berpura-pura menjadi Arini. Sementara dalam pandangan penciptaan tokoh, Arini adalah manusia yang bukan Arini. Ia harus berusaha berada dalam ruang Arini sekaligus dalam ruang “perempuan yang bernama Arini”. Nah, dalam ruang “perempuan yang bernama Arini” Della tidak sepenuhnya memainkan bagian itu. Misal dalam adegan terakhir ketika Richard memeluknya. Arini hanya membuka mata sedikit, menarik nafas, dan memegang tangan Richard. Seperti laku yang menolak perlakuan Richard. Tapi laku yang seolah ingin menunjukkan bahwa ia adalah juga manusia biasa yang ada dalam ruang “perempuan yang bernama Arini” menjadi tidak cukup kuat karena laku itu seperti tiba-tiba terhenti tanpa bangunan yang jelas.

Lalu bagaimana dengan capaian fisik? Tidak ada yang bisa dibahas dari hal ini karena memang seolah-olah tidak ada ciptaan yang mencuri perhatian. Ingat, ciptaan fisik bisa meliputi apapun yang berhubungan dengan fisik. Mulai dari warna suara, cara bicara, cara memandang, cara berjalan, dan hal-hal yang berhubungan dengan fisik terasa sama dengan film Della sebelumnya. Hanya memang kompleksitas tokoh Arini berhasil Della mainkan dengan cukup bagus.

Apakah Film Ini Hanya Soal Richard dan Arini?

Tentu tidak. Dalam film ini aktor lain juga bermain cukup bagus. Misalnya Verdi Solaiman yang bermain sebagai Panji. Ia adalah tokoh ikonik yang muncul di momen-momen yang tepat. Verdi nampak berusaha menciptakan nada dan irama vokalnya, tapi tidak dengan warna suara. Lakunya yang santun dan menjadi “tangan tuhan” dalam film ini cukup bagus sebagai representasi dari “sabda tuhan”. Verdi terlihat memiliki upaya untuk menjauh dari ke-diri-annya dan mendekat ke tokoh.

Lalu ada juga Rukman Rossadi yang bermain sebagai Syamsul. Seperti pada film-film sebelumnya, Rossa bermain pada level yang sama. Ia berusaha menciptakan tokohnya sejauh mungkin dari diri Rossa. Logat betawi yang kental, pilihan pengucapan huruf “S” yang terasa diciptakan, melengkapi tokoh Syamsul. Diluar itu, kecenderungan permainannya masih ada. Misalnya pada cara Rossa memainkan otot pipinya ketika adegan makan mie ayam bersama 2 karyawan yang lain. Jika sering melihat Rossa bermain, caranya memainkan bagian wajah terutama otot pipi, rasanya sama. Selebihnya, Rossa berhasil pada beberapa aspek menciptakan tokoh Syamsul.

Secara garis besar tokoh-tokoh dalam film ini punya kerumitannya masing-masing. Para aktornya bisa dibilang cukup berhasil memainkan kerumitan itu pada beberapa aspek. Selebihnya kerumitan itu seolah diabaikan, entah terlalu lelah karena bergumul dengan kerumitan, atau mentok atas kerumitan itu sendiri.

Meminjam apa kata Stanislavsky pada buku Creating a Role;

The Preparatory work on a role can be divided into three great periods: studying it, establishing the life of the role; putting it into physical form

Jadi, dalam mencipta tokoh, pelajarilah, bangun kehidupan peran itu, dan masukkan dalam bentuk fisik.

Semoga bermanfaat! Viva Aktor!

%d bloggers like this: