[Acting Review] Harriet; Otentik Tapi Tak Bernyawa

Harriet

Salah satu yang mengejutkan kami di Oscar kemarin adalah masuknya Cynthia Erivo dengan permainannya di Harriet sebagai salah satu nominee aktris terbaik. Mengejutkan karena dalam sudut pandang kami ada banyak nama lain yang capaiannya lebih baik dan lebih pantas masuk Oscar seperti Lupita Nyong’o di Us atau bahkan Ana De Armas di Knives Out. Kami mencari-cari apa alasan Cynthia Erivo bisa masuk dan apa saja capaian permainannya. Di acting review ini kita akan membahas bagaimana permainan Cynthia Erivo. Ada banyak spoiler di artikel ini. Jadi yang belum menonton, kami sarankan untuk tidak membacanya sampai akhir.

Harriet

 

 

Apa Saja Capaian Cynthia Erivo di Harriet?

Hal pertama yang kami perhatikan betul dan biasanya menjadi salah satu alasan kuat kenapa seorang aktor atau aktris bisa masuk Oscar adalah ketika ia berhasil mengubah suaranya jauh dari suara aslinya. Awalnya kami agak ragu Cynthia Erivo berhasil mengubah warna suaranya. Tapi ternyata, setelah penelusuran lebih lanjut, kami mendapati bahwa ada perubahan suara yang dilakukan oleh Erivo. Kami tak tahu apakah suaranya mirip dengan Harriet yang asli karena memang tidak ada footage video atau rekaman suara dari tokoh ini sama sekali. Kami hanya mendapati suara Erivo yang jadi lebih berat dan kasar. Jika kalian dengarkan betul, dengan memperhatikan video di bawah ini, kalian akan mendapati suara yang berbeda. 

Dalam video itu sudah ada adegan Erivo di Harriet dan suara Erivo yang asli. Kami menangkap perubahan warna suara yang jadi lebih berat dan besar. Sekedar informasi, Harriet adalah tokoh yang benar-benar ada. Jadi film ini adalah film biopic. Jika seandainya ada rekaman tentang tokoh ini, mungkin kami bisa membandingkan capaian Erivo. Tapi karena tidak ada, kami jadi membandingkannya dengan suara Erivo yang asli dimana jaraknya kami rasa cukup jauh. 

Tapi, selain perbedaan warna suara yang terasa cukup jauh, kami rasa warna suara itu relevan dengan dimensi yang dimiliki si tokoh. Seperti yang ada di film, Harriet adalah seorang budak. Ia tumbuh dari keluarga budak dan sedari kecil sudah menghadapi kerasnya perbudakan. Kami merasa kehidupan yang keras itu relevan dengan warna suara Erivo yang berat. Jadi, selain warna suara yang perbedaannya cukup jauh dengan suara Erivo yang asli, suara ciptaan Erivo juga relevan dengan latar belakang tokohnya, setidaknya dalam logika yang paling umum. 

Setelah suara, kami lalu melihat capaian fisiologis lainnya. Fisiologis tentu jadi capaian yang paling mudah terlihat dan itu jadi alasan kami kenapa capaian fisiologis hampir selalu kami jadikan pembahasan pertama. Kembali ke Erivo, sejauh yang kami tahu, perubahan yang terjadi ada pada bahasa tubuh. Kami melihat bahasa tubuh yang tertata betul dan sedikit banyak cukup jauh dengan bahasa tubuh yang biasa dilakukan oleh Erivo ketika menjadi dirinya sendiri. Salah satu yang paling terlihat adalah betapa seringnya tokoh ini menyatukan tangannya dan meletakkannya di depan perut. Jika kami menilik bahasa tubuh era terjadinya peristiwa di Harriet dengan film lain yang punya latar waktu yang sama, kami bisa melihat bahasa tubuh yang sama. Itu artinya, Erivo sedikit banyak telah berhasil membuat bahasa tubuhnya satu frekuensi dengan latar waktu si tokoh. 

Selain bahasa tubuh di bagian tangan, kami juga melihat bentuk mata dan cara memandang yang berbeda dari Erivo di luar film. Jika diperhatikan betul, Harriet hampir selalu melotot. Matanya selalu terbuka lebar dan tajam. Berbeda dengan Erivo yang pandangan matanya tampak lebih lembut. Kami rasa pandangan mata ini juga cukup relevan dengan dimensi si tokoh yang diceritakan di film. Pada film ini, tokoh yang dimainkan Erivo memiliki kemarahan yang besar pada majikan yang menyalahgunakan haknya. Jika di film diceritakan bahwa hak Harriet yang seharusnya sudah bebas dari masa perbudakan, malah diperpanjang oleh majikannya. Lalu ia serta keluarganya tak boleh pergi dari rumah si majikan. Kami rasa tokoh ini tumbuh dengan kemarahan dan dendam yang besar. Dimana itu membentuk cara memandang yang tajam dan cenderung keras. 

Cara memandang itu juga mengubah kontur wajahnya. Dalam sudut pandang kami, ketika melihat cara memandang Harriet, kami merasa wajahnya jadi agak tajam dengan garis yang keras. Sementara ketika ia menjadi Erivo di kehidupan nyata, bukan di film, kami melihat wajah yang cenderung lembut dengan garis wajah yang cenderung terlihat lebih oval. 

Selain itu, kami tak menangkap bentuk yang berbeda lagi. Mungkin karena kami kurang detail melihatnya. Jika kalian melihat bentuk lain yang berbeda, silahkan tulis di kolom komentar ya! 

 

 

Kejanggalan yang Muncul

Kita lanjut. Dengan bahasa tubuh yang berbeda, suara yang berbeda, dan pandangan mata yang berbeda, kami mendapati satu kejanggalan. Ada banyak sekali adegan yang kami rasa artifisial atau dilakukan tanpa perjalanan pikiran dan perasaan yang tepat. Entah kami yang tak bisa menangkapnya atau bagaimana. Misalnya ketika adegan Harriet berbicara dengan Marie di ruang makan. Kami merasa adegan mereka berdua artifisial. Kami tak melihat baik itu Harriet atau Marie mendengarkan dengan baik dan menjalankan pikiran dan perasaan tokoh dengan baik. Memang terlihat emosional, tapi kami rasa buntung.

Lalu pada adegan lain, ketika di pemakaman, kami melihat Harriet yang nama aslinya Araminta Ross menoleh ke arah Majikannya. Kami merasa tolehan itu terlalu cepat dan motivasinya tidak jelas. Kami tak melihat alasan yang kokoh dari tolehan tersebut. Di film ini kami menyaksikan banyak sekali adegan-adegan macam itu. Itu kenapa setelah selesai menonton film ini kami merasa tak bisa sepenuhnya mengatakan bahwa permainan Erivo menarik. Karena katakanlah bentuk si tokoh menarik, tapi kami tak merasa ada kehidupan yang berjalan di bentuk tersebut. Bentuk itu jadi bentuk yang hanya menarik, relevan, dan menempel saja. Tidak hidup dan berjalan disini dan sekarang. 

Adegan lain yang kami rasa juga janggal terjadi di adegan awal saat ia minta ijin ke majikannya untuk bebas. Kami merasa perjalanan emosi si tokoh tidak langkah demi langkah. Semuanya datang tiba-tiba, dan Erivo seperti tahu kalau setelah ini ia harus melakukan laku tubuh ini, respon ini, dan seterusnya. Respon itu tidak hadir karena peristiwa yang sedang terjadi di depan matanya tapi sudah dirancang sebelumnya. Sehingga ketika keluar, kami merasa respon-respon itu, meski otentik karena bentuknya berbeda, tapi tak punya nyawa. 

Adegan lain yang terasa intens tapi aneh dan janggal terjadi ketika ia menceritakan ulang masa lalunya pada William. Kami merasa perjalanan emosinya menarik, tapi janggal. Kami lalu mendapati bahwa mungkin itu terjadi karena Erivo tidak menjaga intensitas pikiran dan perasaannya untuk tetap ada pada peristiwa dan tidak berusaha merancang terlebih dahulu responnya sebelum peristiwa terjadi. Kalimat yang mungkin mewakili permainan Erivo yang macam itu adalah “Permainannya terasa sangat dihitung”.

Perjalanan emosi yang tiba-tiba dan buntung juga terjadi ketika ia bertemu dengan suaminya, John, dan John berkata bahwa ia menikahi perempuan lain. Emosinya memang intens, tapi keanehan muncul. Kami merasa perjalanan pikiran dan perasaan si tokoh buntung dan terkesan mendadak. Bukan spontan dan muncul karena respon atas peristiwa. Tapi tiba-tiba saja muncul entah dari mana.  

Adegan artifisial lainnya juga terjadi ketika ia pingsan di pohon dan monolog sendiri. Kami merasa laku Erivo di adegan itu sungguh artifisial. Dialognya memang luar biasa kuat dan berarti. Tapi sayangnya Erivo tidak menyampaikannya dengan kuat dan berarti. Kami tidak mendapati getaran apapun dari monolog panjang itu. Kemana pikiran dan perasaan tokoh ketika sedang beradegan? Hilang?

Kami sempat berpikir tokoh ini dibangun sebagai tokoh yang tidak sangat pintar sehingga pandangan matanya beberapa kali terasa kosong, kebingungan, dan tidak tahu mau menuju kemana. Pandangan mata yang tajam itu sepertinya pada beberapa bagian terasa hanya bentuknya saja yang tajam. Tapi tidak memiliki isi sehingga terlihat seperti orang linglung dan bingung saja. Tokoh ini, yang di film memiliki visi yang jelas, dengan pandangan mata macam itu jadi abu-abu. Kemana tokoh ini akan dibawa? Di cerita ia memiliki tujuan yang jelas dan tekad yang kuat, tapi di satu sisi pandangan matanya sering kosong bahkan di adegan-adegan penting. 

Tapi ada beberapa adegan yang berhasil dilakukan dengan baik karena membuat pikiran dan perasaannya berjalan intens. Adegan itu terjadi ketika ia akan berjalan menuju Philadelphia dan ia berjalan ke arah matahari terbenam. Kami melihat emosi dan perhatian yang intens, sehingga perjalanan pikiran dan perasaannya tepat dan relevan. Bentuk-bentuk macam itu yang kami harapkan muncul di adegan lain. Tapi sayangnya tidak. 

 

   

Kenapa Ia Bisa Masuk Oscar?

Lalu kenapa ia bisa masuk Oscar? Kami rasa karena capaian yang sudah kami sebutkan di atas. Ia memiliki capaian fisiologis yang cukup menarik dan detail. Mungkin tidak secara menyeluruh, hanya di bagian-bagian kecil saja seperti mata, laku tangan, dan warna suara. Tapi sepertinya capaian fisiologis di bagian itu berhasil mengaburkan capaian fisiologis di bagian lain. 

Alasan kedua kenapa ia bisa masuk Oscar kami pikir karena di beberapa adegan tokoh ini menyanyi. Cynthia Erivo memang penyanyi, jadi tak heran kalau suaranya merdu. Tapi ada yang menarik dari bentuk nyanyiannya. Jika dalam kehidupan di luar film Erivo bernyanyi dengan gaya dan warna suara yang terasa lebih renyah. Sementara ketika ia bernyanyi di film, kami merasa warna suara ketika menyanyi berubah menjadi lebih bulat dan tebal. 

Alasan berikutnya adalah karena banyaknya adegan dengan emosi yang intens. Adegan-adegan macam itu adalah favorit para voter Oscar. Meski menurut kami banyak adegan dengan emosi yang intens berlalu begitu saja dan beberapa terasa sangat artifisial. Tapi dengan porsi adegan emosional sebanyak itu, kami rasa berhasil membuatnya dilirik para voter. Kami rasa itu alasan yang paling mungkin kenapa Cynthia Erivo bisa masuk Oscar kemarin. 

Erivo tak dipungkiri tetap memiliki capaian yang menarik. Bahkan ia menjadi peraih EGOT termuda. EGOT adalah sebutan untuk orang-orang yang masuk nominasi Emmy Award, Grammy Award, Oscar, dan Tony Award. Tak banyak orang yang bisa mendapatkan “gelar” itu. 

Jadi itu ulasan kami tentang permainan Erivo. Jika kalian punya pikiran lain, silahkan tuliskan di kolom komentar, karena bisa jadi kami tidak sepenuhnya benar. 

Terima kasih, viva aktor

%d bloggers like this: