[Acting Review] Green Book; Orkestrasi Menarik yang Saling Menghidupi!

Green Book merupakan salah satu film yang banjir nominasi dan penghargaan sejak perilisannya pada November 2018 lalu di US. Green Book kurang lebih sudah mendapatkan 87 nominasi dan 43 di antaranya berhasil mendapatkan penghargaan. Salah satu yang paling sering mendapatkan nominasi dan juga penghargaan adalah kedua aktornya, Viggo Mortensen dan Mahersala Ali. Pada Golden Globe awal Januari lalu, Mahersala Ali berhasil mendapatkan Best Supporting Actor sementara Viggo Mortensen harus puas menjadi nominator saja. Pujian atas permainan kedua aktor tersebut masih belum berhenti. Baru-baru ini, mereka berdua berhasil masuk menjadi nominasi Academy Awards untuk Best Actor dan Best Supporting Actor.

Membicarakan permainan Viggo dan Mahersala memang menarik. Apa sebenarnya yang menjadi alasan kedua aktor ini mendapatkan banyak sekali penghargaan? Apakah karena ciptaannya memang lengkap dan menarik? Atau ada hal lain yang tidak dimiliki aktor lain? Dalam artikel kali ini kita akan membahas bagaimana Viggo Mortensen dan Mahersala Ali berhasil bermain dengan sangat apik, bukan hanya sebagai individu, tapi juga sebagai tim.

Viggo Mortensen, Aksen yang Menghidupkan

Viggo Mortensen merupakan salah satu aktor yang memiliki track record cukup baik dalam permainannya. Memang ia tak selaris aktor lain yang setiap tahun selalu punya minimal satu film. Tercatat, hanya ada 1 film yang dibintangi Viggo sebelum Green Book. Film tersebut adalah Captain Fantastic, dimana dalam film itu ia juga berhasil mendapatkan banyak pujian termasuk salah satunya nominasi Oscar tahun 2016. Setelah itu tidak ada lagi film yang dibintanginya. Setelah “libur” selama 2 tahun, Viggo menggebrak lagi dunia keaktoran dengan permainannya di Green Book.

Dalam film yang disutradarai oleh Peter Farelly ini, Viggo bermain sebagai Tony Lip atau Tony Vallelonga. Di film yang dibuat berdasarkan kisah nyata ini, Viggo bermain cukup baik. Pada kemunculan pertamanya, memang tidak banyak perubahan yang bisa terbaca. Salah satu perubahan yang terbaca adalah tubuhnya yang menjadi sedikit gemuk. Tentu saja, dalam film Green Book Viggo menaikkan berat badannya hingga 20 kilo! Perubahan tubuh bagian dada ke atas memang paling terlihat. Nampaknya hal itu juga yang kemudian membuat cara berjalan tokoh ciptaan Viggo berbeda dengan cara berjalan Viggo yang asli. Bukan hanya sekedar perutnya yang menggemuk saja, tapi bentuk torsonya juga nampak diciptakan oleh Viggo. Jika kamu perhatikan baik-baik, Viggo terlihat sedikit membusungkan dadanya.

Masih bicara soal ketubuhan atau fisiologis tokoh ciptaan Viggo. Kali ini kita bicara soal bahasa tubuhnya. Setelah kenampakan tubuh yang berubah cukup drastis, Viggo juga memperhatikan bagian lain yakni bahasa tubuh. Karena Tony Lip adalah seorang keturuan Italia, pastinya ia memiliki sedikit aksen bahasa tubuh Italia kan? Nah, hal itu berhasil ditunjukkan Viggo dalam banyak adegan di Green Book. Aksen-aksen tipis yang menandakan bahwa dirinya adalah keturunan Italia berhasil dimunculkan di tempat yang tepat dan tidak dibuat-buat. Salah satu contohnya bisa kamu lihat di adegan ketika mobil anggota Don Shirley Trio menyalip mobilnya, Viggo melakukan gerakan tangan menyentuh dagu seperti sedang menantang. Gerakan itu adalah salah satu gerakan yang “Itali banget”. Selain itu pada cara menunjuk dirinya sendiri juga terlihat bentuk cara orang Itali menunjuk dirinya.

Selain bentuk tubuh dan aksen bahasa tubuh, suara Viggo juga terasa sedikit berubah. Perubahan suara yang sedikit itu sebenarnya tidak terlalu spesial. Karena jika kalian mendengarkan suara Viggo yang asli, lalu membandingkan dengan suara Tony Lip, maka kalian akan merasakan bahwa Viggo berusaha mencapai warna suara itu tapi hanya sedikit yang terkejar. Tapi yang membuat warna suara yang bedanya tipis itu terasa hidup adalah logat yang dipakai oleh Viggo. Ia merubah logatnya menggunakan logat Italia. Pada beberapa kata konsonan seperti D, T dan kata yang asal suaranya sama, terasa perbedaan yang signifikan.

Aksentuasi yang sedikit itulah yang membantu Viggo menebalkan perubahan dari Viggo sebagai diri dan Viggo sebagai Tony Lip di Green Book. Jika seandainya tidak ada aksen-aksen kecil itu, maka bisa jadi permainan Viggo akan biasa saja.

Kalau diperhatikan lebih dalam lagi, dalam soal capaian fisik tidak ada lagi yang mencuri perhatian. Tapi jika kita bicara soal permainan emosi, tokoh Viggo ini memang cenderung menjadi tokoh yang tidak melankolis. Ia seperti tokoh yang masa bodoh tapi di sisi lain orang yang care atau perhatian. Nah, hal semacam itu berhasil ditunjukkan oleh Viggo. Di adegan ketika ia “masa bodoh” dengan kondisi sekitar, ia terlihat masa bodoh. Bahasa tubuhnya, pandangan matanya, ekspresi wajahnya, semua menyampaikan pesan bahwa ia sedang “masa bodoh” dengan kondisi sekitar. Tapi ketika ada sesuatu yang ia perhatikan, tidak ia setujui, atau sedang membela Don Shirley, bahasa tubuh yang ditunjukkan berbeda lagi. Salah satu contohnya bisa kalian lihat di adegan ketika Don Shirley dipukuli dan Viggo berusaha menyelamatkannya. Dalam adegan tersebut, emosi yang disusun oleh Viggo terasa menarik. Terlebih lagi ketika ia hendak berteriak “Now!” Jeda yang muncul, pilihan nada, dan timing pengucapan dialog tersebut terasa tepat.

Kembali lagi, karena tokoh ini bukan tokoh drama yang melankolis, sehingga tidak ada adegan-adegan yang memiliki muatan emosi yang dalam. Jadi kalau ditanya apakah permainan Viggo spesial? Jawabannya jika Viggo berdiri sendiri sebagai Tony Lip, maka ia akan bermain biasa saja. Bahkan cenderung tidak pantas masuk nominasi Oscar. Kenapa?

Mahersala Ali dan Perubahan yang Tipis

Setelah bicara soal permainan Viggo Mortensen yang jika dipandang dari sejauh mana perbedaan antara ciptaan Viggo dan Viggo sendiri maka akan terasa tipis, kita bicara soal Mahersala Ali. Aktor kulit hitam yang satu ini bisa dibilang memiliki nasib yang sedikit lebih baik dari Viggo. Seperti yang disebutkan di atas, jika Viggo hanya berhasil meraih nominasi, Mahersala justru sebaliknya. Dalam beberapa gelaran penghargaan, ia berhasil mengalahkan banyak pemain lain dan meraih penghargaan sebagai pemeran pendukung pria terbaik. Lalu apa yang sebenarnya spesial dari permainan Mahersala Ali, jika di sub judul telah kami tulis “perubahan yang tipis”? Berikut pembahasannya;

Bicara soal perubahan fisik, secara kasat mata tidak ada perubahan signifikan dari rupa baik wajah maupun tubuh Mahersala Ali di Green Book. Jika kita menilik film sebelumnya atau Mahersala Ali di luar film, maka tampilannya sama. Hampir bisa dibilang 90% sama. Tapi jika kita bicara soal gesture, maka kita akan menemukan perbedaan yang signifikan dari permainan Mahersala. Gesture yang diciptakan oleh Mahersala Ali terlihat seperti gesture seorang pemain piano professional. Bentuk badan yang tegak lurus, arah pandang wajah yang lurus ke depan, dagu yang selalu naik ke atas, dan gerakan tangan dan jari yang terlihat seperti seorang pemain piano professional. Perubahan gesture itu terlihat jelas dari awal kemunculannya sampai film selesai. Ia terlihat sebagai orang yang punya manner yang tinggi.

Masih bicara soal gesture, dalam permainan Mahersala Ali di film Green Book ini kita bisa melihat bagaimana ia mencoba untuk mengatur semua pergerakan tubuhnya. Hampir pada setiap adegan, ia melakukan gerak tubuh yang minim. Tapi, meskipun gerakan tubuhnya sedikit, tiap gerakan tubuh yang muncul terasa selaras dengan pikiran yang sedang berjalan di dalam diri si tokoh. Sehingga gerakan-gerakan kecil itu terasa hidup.

Selanjutnya masih bicara soal capaian fisiologis tapi kali ini bicara soal capaian vokal. Coba lihat video di bawah ini;

Video tersebut adalah interview langsung dengan Don Shirley. Lalu coba bandingkan dengan suara yang diciptakan oleh Mahersala Ali di video di bawah ini;

Kalian tentu akan secara cepat melihat bahwa suara Don Chirley yang diciptakan oleh Mahersala Ali dan Don Chirley yang asli tidak terasa sama. Suara Don Chirley asli terasa lebih tinggi dari pada suara Don Chirley ciptaan Mahersala Ali. Meski begitu, kita patut mengapresiasi perbedaan suara Mahersala Ali dalam film Green Book ini. Jika dibandingkan dengan suara Mahersala Ali di luar film Green Book, maka apa yang diciptakan oleh Mahersala adalah capaian yang baik. Kalau kita perdengarkan lagi, Mahersala Ali seperti mencoba sampai pada titik nada suara Don Chirley yang asli, meskipun kemudian ada semacam perbedaan yang sepertinya sengaja dibuat oleh Mahersala.

Lalu bicara soal respon yang dilakukan oleh Mahersala. Dalam tiap responnya, seperti yang sudah disebutkan di atas, respon yang dikeluarkan semuanya sesuai dengan peristiwa yang terjadi. Salah satu contoh sederhana bisa kalian lihat di adegan dalam mobil ketika Mahersala Ali menyuruh Viggo Mortensen untuk diam tapi Viggo justru terus melanjutkan ocehannya. Ekspresi muak dan gesture muak akan ocehan Viggo terasa hidup dan muncul dengan kadar yang sesuai dengan tokoh yang diciptakan oleh Mahersala Ali.

Ada satu hal yang membuat kami bertanya dan mencari informasi. Hal itu adalah tentang apakah benar bahwa Mahersala Ali bermain piano atau hanya dubbingan semata. Dilansir dari Vulture, Kris Bowers yang merupakan master Jazz sekaligus pelatih piano Mahersala Ali mengatakan bahwa Mahersala benar-benar melakukan adegan bermain piano tersebut. Ia menghabiskan waktu 3 bulan untuk berlatih piano. Menurut keterangan Kris Bowers, Mahersala Ali bukan hanya berlatih kemampuan bermain piano, tapi juga bentuk tubuh orang yang bermain piano dan gesturenya. Mahersala Ali mengatakan bahwa ia tak ingin melatih kemampuan bermain piano saja, tapi ia juga ingin terlihat seperti orang yang ahli bermain piano bahkan ketika ia sedang tidak bermain piano. Hal ini akhirnya menjelaskan kenapa gesture dan bentuk tubuh Mahersala Ali muncul sedemikian rupa.

Pada permainan fisiologis, level yang dicapai oleh Mahersala Ali cukup bagus. Tapi selain itu tidak ada lagi yang mengejutkan. Mahersala Ali sangat konsisten dengan bentuk tubuh dan gesture yang ia ciptakan.

Lalu bagaimana dengan permainan emosinya? Mahersala Ali bisa dibilang berhasil memainkan emosi tokoh Don Chirley ini dengan baik. Setelah ia selesai dengan fisiologis tokoh, ia berhasil membawa emosi tokoh tetap dalam bentuk fisik dan gesture si tokoh. Ia juga tetap berhasil memainkan emosi-emosi yang dalam meskipun adegannya hanya beberapa detik saja. Salah satu contohnya bisa kamu lihat ketika adegan Mahersala Ali mencoba menutup memar di wajahnya dengan make up. Pada adegan tersebut kita bisa melihat pandangan mata yang kuat dari Mahersala Ali. Kita seolah ditunjukkan seperti apa perasaan sedih dan gejolak yang terjadi di pikiran dan perasaan si tokoh lewat pandangan mata yang kuat itu. Sekali lagi, yang membuatnya spesial adalah karena adegan itu hanya terjadi beberapa detik saja. Tidak banyak aktor yang bisa memaksimalkan momen sepersekian detik untuk menunjukkan emosi tokoh mereka dengan baik.

Selain itu ada satu adegan dimana Mahersala Ali menunjukkan emosi besarnya. Adegan tersebut adalah ketika ia marah kepada Viggo Mortensen dan keluar dari mobil. Ia kemudian berdialog “Kalau aku bukan negro, bukan kulit putih, bukan lelaki jantan, lalu apa aku ini?..” Dalam adegan tersebut emosi yang ditunjukkan oleh Mahersala Ali terasa pas. Emosi tersebut muncul dengan kadar yang tepat. Selain itu tangga emosinya juga pas. Pikirannya benar-benar berjalan selaras dengan bahasa tubuh dan ledakan emosinya. Penekanan kata dan jeda dialog yang dilakukan Mahersala Ali juga terasa tepat.

Tapi jika ternyata permainan Mahersala Ali ini hanya merupakan sebuah “Perubahan Tipis” lalu apa yang spesial. Satu hal yang wajib kalian garis bawahi adalah Mahersala Ali dalam film ini berperan sebagai pemeran pembantu dan bukan aktor utama. Dengan porsinya sebagai pemeran pembantu, ia tak hanya muncul menghidupkan perannya saja, tapi juga menghidupkan lawan mainnya. Tak banyak aktor punya kemampuan semacam itu. Kebanyakan aktor bingung pada dirinya sendiri dan lebih mementingkan dirinya sendiri. Seolah-olah hanya dia yang boleh bagus sementara lawan mainnya tidak. Tapi Mahersala Ali tidak begitu. Ia bermain sesuai porsinya dan berhasil menjadi pendukung dan “pemberi hidup” pada permainan hampir semua lawan mainnya.

Orkestrasi Menarik yang Bikin Hidup!

Yups! Ini adalah hal yang paling menarik dari film Green Book. Orkestrasi yang tercipta dari dua tokoh Tony Lip dan Don Chirley sangat menarik. Ansamble permainan kedua aktor tersebut terasa saling menghidupi satu sama lain. Dengan bahasa tubuh Mahersala Ali yang flamboyan, manner yang tinggi, dan bertolak belakang dari Viggo Mortensen yang serampangan, membuat kedua tokoh ini hidup dan saling menghidupi. Respon dari tiap aktor ini juga menarik. Masing-masing tetap berdiri sebagai tokoh secara individu, tapi juga menghidupi tokoh lain dan berperan sesuai porsi mereka masing-masing.

Ini yang membuat permainan mereka berdua terasa spesial. Mungkin juga ini adalah alasan kenapa kedua aktor ini mendapatkan banyak penghargaan. Ansamble yang tercipta antar keduanya membuat film ini semakin kuat baik dari segi cerita atau permainan aktornya. Dalam film ini baik Mahersala Ali atau pun Viggo Mortensen muncul dengan porsi yang tepat tanpa “membunuh” lawan mainnya. Mungkin juga hal ini yang menyebabkan Viggo dan Mahersala berhasil masuk nominasi Oscar tahun ini.

Menurut tim akuaktor, sejauh ini, permainan Viggo Mortensen dan Mahersala Ali adalah ansamble terbaik sepanjang tahun 2018. Tapi apakah keduanya akan bisa mendapatkan Oscar? Kalau Mahersala Ali mungkin iya, dengan melihat track record penghargaan yang ia dapatkan. Tapi Viggo, masih ragu. Pasalnya saingan Viggo cukup berat tahun ini.

Untuk pembahasan mengenai prediksi Oscar tahun ini, akan segera kami buat. Selalu kunjungi akuaktor.com dan jangan lupa untuk membagikan artikel ini.

Terima kasih dan Viva Aktor!

Let People Know!