[Acting Review] Capote; Ciptaan yang Detail!

Bicara soal akting dalam film biopic, maka tak lengkap rasanya jika kita tidak memasukkan Capote ke dalam salah satu daftar akting terbaik dalam film biopic sepanjang masa. Seperti yang mungkin sudah kamu tahu, Capote adalah sebuah film yang rilis tahun 2005 dan bercerita tentang seorang penulis bernama Truman Capote. Film ini kurang lebih bercerita tentang kisah nyata Truman Capote, seorang penulis buku Amerika yang sedang dalam perjalanannya menulis sebuah buku berjudul In Cold Blood. Aktor yang memainkan Truman Capote dalam film ini adalah Philip Seymour Hoffman. Lalu kenapa film ini bisa menjadi salah satu film biopic dengan akting terbaik sepanjang masa? Jawabannya adalah, selain karena Philip berhasil menyabet hampir semua nominasi yang didapatkannya, ia juga memiliki capaian penciptaan yang luar biasa. Seperti apa “Luar biasa” itu? Berikut pembahasan akting Philip Seymour Hoffman yang “Luar Biasa” dalam film Capote; Selamat membaca!

Capote dan Hoffman, Lompatan yang Sangat Jauh

Pertama kali kami melihat kemunculan Philip Seymour Hoffman dalam film ini, kami dibuat terhenyak. Pada pandangan pertama, kami sudah bisa menangkap penciptaan yang sangat baik dari Philip. Mari kita bedah satu persatu.

Pertama dari kenampakan fisiknya. Capote ciptaan Philip terlihat jauh berbeda dengan Philip di kehidupan nyata. Mungkin jika kalian melihat Capote yang asli, maka kalian akan berpikir kalau secara fisik, kenampakan Capote ciptaan Philip tidaklah sangat mirip dengan yang asli. Mungkin bagi kalian yang sudah menonton Infamous, cerita tentang Capote yang lain, kalian akan menganggap bahwa Toby Jones lebih mirip secara fisik dengan tokoh aslinya dari pada Philip. Memang benar, tapi ada hal lain yang sangat menarik dan perlu kalian lihat pada permainan Philip yang tidak dimiliki oleh Toby Jones dimana itu bisa kalian lihat pada bahasa tubuh dan ciptaan gesture Philip.

Itulah yang kami perhatikan selain kenampakan fisik ciptaan Philip. Pada kemunculan awalnya, cara Philip memainkan bagian wajah, torso, tangan, mata, dahi, hidung, mulut, sampai bagian paling detail dan kecil, yakni bagian atas bibir di bawah hidung, sangat sempurna. Meski secara fisik Toby Jones lebih mirip dari pada tokoh aslinya, tapi ciptaan gesture Philip membuatnya menjadi sangat dekat dengan si tokoh asli. Ini baru pada tataran kenampakan fisik dan ciptaan gesture. Dan ingat, masih dalam keadaan diam, tanpa bicara.

Pada bagian selanjutnya, kami kembali dikejutkan dengan suara yang diciptakan oleh Philip. Yups! Bagian yang oleh para aktor sering dilupakan, tidak diciptakan, atau diciptakan tapi tidak bisa sangat meyakinkan para penonton akan ciptaannya itu, oleh Philip diciptakan dengan sangat baik. Warna suara tokoh ciptaan Philip sangat berbeda dengan warna suaranya yang asli. Jika kalian mendengarkan dengan baik dan membandingkannya dengan baik juga, maka kalian akan mendengar kemiripan suara antara Capote ciptaan Philip dan tokoh aslinya. Bukan hanya soal warna suara yang sangat mirip. Dengarkan dan bandingkan lagi, cara Philip berujar, caranya memenggal kata, aksen yang diciptakannya, dan bentuk mulutnya ketika mengucapkan kata dan huruf-huruf tertentu. Kamu akan mendengar, melihat dan merasakan kemiripannya dengan si tokoh asli.

Selain itu, coba ketika mendengarkan suara dari Capote ciptaan Philip, pejamkan mata kalian dan gambarkan tokoh itu di dalam pikiran kalian. Mungkin kalian akan bisa melihat penggambaran tokoh yang hampir mirip dengan tokoh yang diciptakan oleh Philip. Maksudnya, dari mendengarkan suaranya tanpa melihat kenampakan fisiknya saja kami bisa yakin bahwa tokoh itu punya bentuk tubuh seperti yang ciptakan Philip, punya gesture yang agak feminim, lelaki dengan tingkat kecerdasan yang tinggi, dan bahkan kami bisa membayangkan kecenderungan cara-cara tubuhnya bergerak dari mendengarkan suara itu.

Coba bandingkan video interview Truman Capote yang asli ini;

Dengan Truman Capote ciptaan Philip Seymour Hoffman.

Bagaimana? Keduanya terlihat sangat mirip kan? Meskipun secara kenampakan fisik tidak sangat mirip, tapi cara membawakan kedua tokoh, yang asli dan ciptaan Philip terdengar, terlihat, dan terasa sama.

Jika di-breakdown lagi ciptaan Philip, maka kita akan menemukan banyak sekali penciptaan yang menarik. Dari gesture dulu saja. Bukan hanya bagaimana cara ia berjalan, menggerakkan bibir, mulut, mata, atau torso. Tapi caranya memegang gelas, caranya memegang rokok, caranya menghembuskan asap rokok, cara memegang koran, cara memegang telepon, caranya menggaruk rambut, semuanya diciptakan dengan baik oleh Philip. Yes! Bukan hanya gesture-gesture tubuh yang besar saja yang diperhatikannya. Sampai pada gesture tubuh terkecil pun sangat diperhatikan oleh Philip. Bahkan bukan hanya gesture atau laku yang “melakukan sesuatu”.

Gerak tubuh kecil yang seperti tanpa motivasi ikut menghidupkan tokoh ciptaan Philip ini. Kalau kalian memperhatikan dengan sangat detail sampai titik terkecil, kalian akan melihat Philip menggerakkan bagian bawah hidung di atas bibirnya beberapa kali. Gerakan itu gerakan yang sangat kecil. Mungkin bukan termasuk laku atau gesture. Tapi terlihat sekali bahwa gerakan sekecil itu oleh Philip Seymour dipikirkan dengan mendetail, diciptakan dengan baik, dan digunakan dengan baik juga untuk menghidupkan tokoh tersebut. Apalagi? Kami sampai bingung hendak menuliskan apa soal penciptaan Philip pada tokoh ini dari sudut pandang fisiologis. Karena memang bisa dibilang sangat sempurna.

Hal yang membuat ciptaannya mendapatkan banyak sekali penghargaan mungkin juga karena lompatan yang jauh antara dirinya dan tokoh yang diciptakannya. Bandingkan saja Philip Seymour yang asli dengan ketika ia menjadi tokoh ini. Kita hampir tidak bisa melihat sedikit pun kesamaan di antara keduanya. Bahkan sampai pada titik yang paling kecil sekalipun. Philip seperti meletakkan sepenuhnya setiap matriks tubuhnya di tempat lain untuk sementara, dan membiarkan Capote ciptaannya menguasai tubuh Philip sepenuhnya.

Tingkat Penciptaan yang Luar Biasa Detail

Pada poin pertama tadi kita sedikit banyak sudah membahas soal capaian fisiknya yang sangat detail. Dari gesture yang besar, hingga gesture terkecil yang mungkin 1% dari sekian ratus ribu aktor di dunia yang memperhatikan hal tersebut dan menciptakannya. Kali ini kami mencoba kembali membahas mengenai bagaimana tokoh ciptaan Philip ini menjalankan pikirannya dan berefek pada gesture yang dengan sangat detail sudah ia ciptakan itu.

Pertama adalah soal bagaimana Philip menciptakan bagian mata dan memainkannya. Pada bagian mata, kami bisa melihat ciptaan yang mewujud. Cara matanya memandang pada setiap adegan di film ini berbeda. Artinya, tergantung di peristiwa apa tokoh itu berada. Salah satu contohnya bisa kalian lihat ketika adegan polisi mengumumkan tentang kasus pembunuhan dan kepala Polisi keluar ruangan. Pada adegan tersebut, cara Philip membangun dan menjalankan emosi Capote sangat menarik. Dengan bentuk mata, cara menggerakkan leher, dan caranya mengeluarkan ekspresi, membuat pandangan matanya terasa dan terlihat memiliki cara yang lain dalam menunjukkan perasaan dan apa yang sedang berjalan dipikirannya. Bukan hanya ketika adegan-adegan penting. Pada adegan-adegan biasa pun, kita masih bisa melihat “mata yang diciptakan dan hidup” pada tokoh ciptaan Philip.

Selain itu, cara tokoh ini menjalankan emosi juga diciptakan dengan baik oleh Philip. Caranya menjalankan emosi terasa berbeda dan menarik. Salah satu contohnya bisa kamu lihat di adegan ketika Capote melihat ke arah peti mati para korban pembunuhan sadis tersebut. Ketika ia membuka peti mati, kita bisa melihat cara Philip menjalankan emosinya. Ia terasa dan terlihat menjalankan emosinya dengan genuine atau asli seperti cara tokohnya. Seolah tidak ada tendensi apapun atau keinginan apapun dari Philip untuk ikut menunjukkan emosi pribadinya sebagai aktor. Kalau kita bedah secara mendetail, kita bisa melihat pada adegan tersebut, cara Philip memainkan nafas dari yang biasa saja sampai ke agak pilek. Semua gesture dari yang paling besar sampai yang terkecil itu diciptakan dengan baik. Tangga emosinya runut dan jelas. Coba perhatikan betul tentang pertumbuhan “pilek” dari si tokoh ketika membuka peti mati. Terasa berbeda pada satu detik ke detik berikutnya kan?

Bicara soal capaian Philip Seymour Hoffman yang hampir sempurna, tidak berhenti pada bentuk dan hidup yang diberikan pada bentuk itu saja. Kami juga memperhatikan betapa konsisten bentuk ciptaan Philip Seymour Hoffman pada film ini. Hampir tidak ada celah ciptaan yang kabur pada tiap detiknya. Semua ciptaan Philip selalu ada di hidup yang sama, sangat konsisten. Tapi meski begitu, tetap ada sedikit bagian kecil yang tampak tidak konsisten pada beberapa adegan. Salah satu hal kecil yang bisa kamu perhatikan dan sejauh yang bisa kami tangkap adalah bentuk mulutnya yang pada beberapa adegan tampak berbeda. Pada beberapa adegan, bentuk mulut Capote yang sudah ia ciptakan seperti menghilang sepersekian detik.

Seperti bentuk fisik dan gesture tokohnya yang hidup, respon tokoh ciptaan Philip ini juga terasa dan terlihat hidup. Setiap respon yang dimunculkannya tidak tertebak. Salah satu respon yang menarik adalah ketika ia mendatangi si pembunuh atau Perry di sebuah rumah. caranya merespon keberadaan Perry menarik. Bukan hanya itu, caranya “menyalakan” ingatannya tentang betapa kejamnya si Perry yang telah membunuh satu keluarga juga menarik. Kami bisa membacanya dari ekspresi wajah dan caranya memandang. Tak berhenti disitu, rasa marah pada Perry si pembunuh satu keluarga itu juga kemudian berhasil dikontrol dengan sangat baik oleh Philip. Sesuai dengan perannya yang memang ingin menuliskan cerita pembunuhan satu keluarga ini. Di satu sisi ia marah secara manusiawi, di sisi lain ia harus menjauhkan sisi personalnya dan berlaku lebih profesional.

Hampir pada tiap detik film ini berjalan, setiap ekspresi, dan respon yang dikeluarkan oleh Philip terasa hidup dan menghidupi. Bukan hanya menghidupi dirinya sebagai tokoh, lawan main, dan peristiwa, tapi ia berhasil memberikan hidup pada film ini secara keseluruhan. Contoh adegannya bisa kamu lihat ketika Philip menceritakan masa lalunya di penjara. Ia berhasil memainkan matanya. Memilih nada bicara yang tepat, gerakan kepala yang tepat (tepat artinya ia tahu kapan harus menunduk, kapan harus membuang wajah, kapan harus memandang lawan main lagi, semua timing yang dipilihnya tepat dan hidup). Semua gesture yang ia keluarkan sejalan dengan peristiwa, pikiran, dan emosi si tokoh.

Selain itu kamu juga bisa memperhatikan salah satu adegan ketika Capote mendengar kabar kalau banding Perry di pengadilan di tolak dan ia akan segera dihukum mati. Ekspresi yang dilahirkan oleh Philip menarik. Kami bisa melihat bahwa ia seolah tak berekspresi sama sekali. Seperti datar saja wajahnya. Tapi entah kenapa, kami seolah diajak untuk membaca pikirannya dari mata dan gerakan kecil yang dilahirkannya. Bahkan kami seolah diajak menahan nafas ketika mendengar kabar tersebut.

Lalu kalau sepanjang artikel ini kita bicara soal kelebihan dan hanya satu kekurangan yang dimiliki dari permainan Philip Seymour Hoffman, pertanyaanya, apakah memang sesempurna itu? Jawabannya iya! Memang begitulah penciptaan Philip Seymor Hoffman sepanjang pembacaan kami. Mungkin satu-satunya yang membuat tokoh ini seolah tidak memiliki kesempatan untuk “pamer” emosi adalah karena memang tidak ada atau tidak banyak adegan dengan emosi besar. Satu-satunya adegan dengan emosi besar hanya ketika ia menangis saat bertemu Perry untuk yang terakhir kali sebelum dieksekusi. Pada bagian itu pun, seolah-olah, semua emosi yang ia kumpulkan sepanjang film meledak di ruangan tersebut. Meski kami disuguhi Capote yang feminim, tapi di sisi lain kami disuguhi Truman Capote, lelaki kuat yang tidak mudah meneteskan air mata.

Sebetulnya kami tidak heran kalau capaian Philip Seymour Hoffman akan sebagus ini dalam film Capote. Pasalnya dalam proses pencariannya ia sangat total. Berdasarkan data yang kami himpun, Philip tidak keluar dari tokoh selama proses shooting film. Maka normal saja kalau ia bisa sekonsisten dan sehidup itu. Karena ia memang tidak pernah keluar dari tokoh sampai proses shooting film selesai.

Secara garis besar, permainan Phillip Seymour Hoffman di film ini sangat menarik. Capaiannya lengkap, detail, konsisten dan hampir sempurna. Pada tiap dimensi keaktoran, Philip berhasil menciptakannya dengan utuh. Mulai dari fisiologis, psikologis, hingga sosiologis. Seperti tidak ada celah untuk mengatakan bahwa permainan Philip pada filmnya yang satu ini buruk. Meski ada sedikit inkonsistensi pada permainannya, tapi itu tidak mempengaruhi capaian besarnya dalam film ini. Tak heran kalau film Capote yang dibintangi Philip Seymour Hoffman, lebih mendapatkan perhatian dan pujian dari pada Infamous yang dimainkan Toby Jones.

Tapi apakah Toby Jones bermain jelek? Gimana kalau review selanjutnya adalah Toby Jones di film Infamous? Kalau kalian setuju, share artikel ini dan bilang “Setuju” sambil tag kami di Instagram atau Facebook. Semoga bermanfaat ya artikel kali ini.

Viva aktor!

Let People Know!